Percaya atau tidak, saat ini pengguna Internet dunia didominasi masyarakat di benua Asia. Berdasarkan data statistik dari Internetworldstats sejumlah 825,094,396 pengguna Asia mengakses Internet. Namun demikian perkembangan selama satu dekade terakhir paling menonjol di benua Afrika. Bayangkan saja dari total perkembangan di dunia sebesar 444.8% ternyata pengguna Internet di benua Afrika mencapai angka perkembangan 2,357.3%!
Hal ini tidak dapat dipungkiri lagi bahwa penetrasi media baru seperti Internet mendorong seluruh lapisan industri menggunakan media baru ini. Yang paling bersinar dalam hal ini adalah industri Teknologi Informasi dan Komunikasi (TIK). Silahkan perbaharui informasi terkini tentang perangkat pangakses Internet jaman sekarang. Sejak Industri China memasok barang-barang elektronik ke seluruh dunia, sejak Facebook dan Twitter digandrungi oleh warga dunia, sejak Asus melemparkan produk Eee PC ke pasar dunia dengan sebutan netbook, kini masyarakat dunia mulai menganggap TIK bukan lagi sebuah hal yang jauh untuk diraih, TIK kini menjadi sebuah gaya hidup.
Kini Google menohok pasar dengan Sistem Operasi Android-nya, dan saat ini mulai muncul perangkat netbook yang berharga dibawah 1 juta rupiah! Simak saja situs resmi di Indonesia dengan merek Elevo. Namun tetap diingat bahwa penggunaan TIK bukan hanya sekedar gaya hidup namun tentang kepedulian kita terhadap keseimbangan alam dan kebutuhan hidup yang hakiki. Jadi apakah saat ini kita sudah benar-benar membutuhkan itu semua atau sekedar mengikuti trend di pasar?
Understanding Concept of Digital Communications and Implementing Online Public Relations Activities
Showing posts with label Life Style. Show all posts
Showing posts with label Life Style. Show all posts
Sunday, August 1, 2010
Populasi Pengguna Internet Tertinggi: Asia!
Monday, April 19, 2010
iPad, Teknologi Baru dan Budaya

Pernah mendengar atau membaca informasi tentang iPad? Untuk lebih jelasnya silahkan klik kata iPad sebelumnya. Saya tidak panjang lebar membahas tentang iPad disini. Artikel ini sekedar memberikan umpan balik atas maraknya teknologi komunikasi melalui gadget dan peralatan komputer yang semakin kecil dan sederhana.
Sebagian pihak mengatakan bahwa masyarakat akan serta merta mengadopsi teknologi semacam iPad ini dengan alasan lebih tinggi tingkat mobilitas-nya dan efisien dalam hal penyimpanan. Hal tersebut memang tidak dapat diragukan lagi, namun ada beberapa faktor yang membuat masyarakat juga tidak serta merta mengadopsi teknologi ini. Banyak faktor yang membuat masyarakat tidak langsung mengadopsi teknologi baru, selain masalah biaya, juga masalah budaya.
Di satu media cetak besar nasional yang membahas tentang iPad ini mengatakan bahwa era pengetikan menggunakan keyboard atau papan ketik akan ditinggalkan. Apakah akan seperti itu adanya? Saya sangat meragukannya!
Sejak kemunculan koran online, kenyataannya toko buku masih banyak dikunjungi masyarakat, penulis, penerbit dan percetakan masih melakukan aktifitas dan memperoleh keuntungan dari budaya membaca masyarakatnya. Masyarakat masih berlangganan koran setiap hari, ada kemunculan majalah baru dari berbagai komunitas dan kebutuhan dan anak-anak sekolah serta mahasiswa masih menggunakan buku sebagai pembelajaran utamanya. Jadi, bisa dikatakan bahwa teknologi baru dengan media baru semacam Internet saat ini sekedar pilihan kedua dibandingkan media konvensional.
Kenyataannya memang teknologi diadopsi sebagian masyarakat dengan keterbatasan pengetahuannya. Namun budaya menentukan sikap, perilaku dan cara menggunakannya. Kita ada di masa transisi dimana sebagian kecil masyarakat mengadopsi teknologi namun sebaliknya sebagian besar masyarakat belum mengadopsinya. Belum lagi tanpa menghilangkan rasa optimis kita terhadap energi bumi, sudah selayaknya kita menjadi arif dan bijaksana dalam menggunakan energi tersebut, sebagai contoh ada aktifitas yang mencoba menghindari ketergantungan kita terhadap energi listrik.
Terkadang surat dengan tulisan tangan akan lebih pribadi dibandingkan surat elektronik yang dapat dikirimkan dalam beberapa detik saja. Terkadang lukisan di galeri-galeri seni akan lebih romantis dibandingkan foto-foto yang disebarkan lewat Internet. Seringkali akan lebih nyaman membaca buku bersama pasangan dibandingkan sibuk dengan gadget-nya masing-masing. Bukankah terkadang teknologi membuat kita mendekatkan yang jauh dan menjauhkan yang dekat?
image: courtesy of techno-mobile.net
Labels:
Bahasa,
communications,
Digital Tools,
Life Style,
Technology
Friday, April 16, 2010
Green ICT Yang Mendasar

Akhir akhir ini lagi ramai-ramainya propaganda tentang Green ICT. Buat yang 'newbie' atau awam tentang istilah-istilah baru ini bisa menyimak tulisan singkat ini.
Singkat istilah, kata Green ini memang langsung diartikan sebagai penghematan. Tapi muncul pertanyaan, kenapa tidak pakai kata 'hijau' saja? Maklumlah, supaya pengartiannya meng-GLOBAL maka gunakan kata 'green'. ICT juga kepanjangan dengan bahasa inggris yaitu Information and Communication Technology. Kalo di-Indonesiakan menjadi Teknologi Informasi dan Komunikasi, disingkat TIK. Jadi kalo dipaksakan pakai bahasa Indonesia istilah ini menjadi TIK Hijau. Hehehehe menyebutnya jadi aneh ya :-?
Lepas dari permasalahan istilah, yang terpenting adalah permasalahan 'penghematan' yang menjadi tujuan kampanye ini. Bayangkan saja, total pengguna internet dunia saat ini sebesar1,802,330,457 dapat menghemat penggunaan kertas sebesar 60%, namun disisi lain ternyata konsumsi listrik-nya juga tidak kalah besar, yaitu sebesar 40%!
Melalui blog ini, penulis sekedar berbagi agar penggunaan komputer lebih bijaksana lagi. Bila ada niatan untuk mencetak email, sedianya dipikirkan baik-baik kepentingannya. Sebaliknya, upayakan untuk menghemat penggunaan daya listrik dengan mematikan komputer, atau setidaknya lakukan modus standby manakala komputer tidak digunakan dalam waktu lebih dari 30 menit. Untuk pengguna Internet, hal ini selain menghemat daya listrik, sekaligus mengantisipasi munculnya botnet di dunia maya.
Bagi pengguna laptop atau komputer jinjing, mungkin dapat memanfaatkan baterai sebagai sumber daya pengganti listrik, seefisien mungkin. Manakala baterai sudah mendapatkan daya yang penuh, segera cabut sambungan daya listrik ke laptop dan mulai gunakan baterai tersebut kembali sebagai sumber daya listrik-nya. Selain hemat, baterai laptop menjadi lebih tahan lama.
Penggunaan perangkat tambahan di sebuah komputer seperti webcam, harddisk eksternal, DVD eksternal, perangkat game, dan lain-lain, ternyata juga memakan sebagian daya komputer, jadi alangkah baiknya apabila perangkat tersebut sudah tidak digunakan segera dicabut dari komputer.
Semoga kampanye Green ICT ini tidak sia-sia, dan penulis yakin, kita sudah melakukannya sejak lama, tinggal bagaimana cara kita untuk menyebarkan kebiasaan baik ini kepada masyarakat yang masih awam tentang hal ini.
image: courtesy of datanews.rnews.be
Tuesday, March 16, 2010
Facebook, Twitter, Plurk atau hanya sekedar Mailing List ?
Beberapa kalangan mengatakan Facebook.com telah mengguncang dunia. Sementara menurut data statistik yang diberitakan oleh PC World tentang hal ini, kepopuleran Facebook.com memang sangat signifikan dibandingkan Google.com sekalipun.
Namun demikian, Google.com juga memiliki sesuatu untuk masuk ke pasar Jejaring Sosial dengan Google Buzz-nya. Dari sisi trend, Facebook.com memang fenomenal. Namun dari sisi kedekatan komunitas-nya ini perlu dipertanyakan. Meski apabila dibandingkan dengan Jejaring Sosial lainnya, Facebook.com lebih unggul. Namun demikian, siapa yang merasakan hal ini jika bukan penggunanya sendiri?
Rasanya masih subjektif, manakala saya sendiri mengatakan bahwa Facebook.com lebih populer dibandingkan Twitter.com. Tentunya ini karena saya masih lebih sering menggunakan Facebook.com sebagai aplikasi Jejaring Sosial daripada Twitter.com atau Plurk.com misalnya.
Fenomena Media Sosial semacam ini, perlu ditilik lebih dalam lagi, pertama dari sisi kebutuhannya bukan hanya sekedar trend atau kehebohannya. Begitu juga dari sisi kedekatan anggotanya. Sejak booming Jejaring Sosial melanda dunia pertama kali, belakangan mailing-list yang saya moderatori kini mulai hidup kembali,. Terhitung sudah setahun lebih mailing list ini seperti aplikasi yang tertidur. Saat salah satu anggota membuka pembicaraan baru di mailing list tersebut, kini para anggotanya mulai merasakan ada kedekatan menggunakan medium mailing-list dibandingkan Jejaring Sosial yang cenderung mesh atau bertautan dan carut marut antar anggotanya.
Tuesday, October 7, 2008
Fenomena Virtual Ajang Formula One
Fenomena perubahan gaya hidup telah terlihat kembali pada saat digelarnya Singapore Grand Prix Formula One 2008 di malam hari. Hal ini menambah khasanah informasi tentang penggunaan media online di masyarakat dunia. Melalui tulisan Bre Redana tentang Pengalaman "Virtual" Formula 1 pada harian surat khabar kompas 4 Oktober 2008 memperlihatkan bahwa seiring dengan perkembangan teknologi informasi dan komunikasi membuat perubahan gaya hidup masyarakat masa kini.
Orang menyaksikan pertandingan mobil balap kelas dunia seperti pada Singapore Grand Prix Formula One 2008 ini ternyata tidak semata-mata melihat ajang kebut-kebutannya. Mereka memiliki kecenderungan menggunakan teknologi sebagai prestise di peradaban masa kini. Untuk melihat ajang balapan seperti ini tidak banyak yang secara langsung menggunakan indera penglihatannya dalam memperhatikan kecepatan mobil balap tersebut. Lebih banyak para penikmat balapan menggunakan teknologi yang ada seperti televisi misalnya. Ditambah lagi sebuah alat canggih dalam genggaman tangan disewakan oleh panitia seharga 157 dollar Singapura (sekitar 1 Juta rupiah) selama tiga hari. Gadget ini terhubung ke kamera masing-masing pembalap. Sehingga dengan cara ini pengguna gadget dapat memilih untuk melihat sudut kamera setiap pembalap yang diinginkannya. Yang lebih menarik lagi komunikasi antar pembalap dengan kru balapnya juga dapat didengar melalui alat ini.

Di sebelah kiri ini adalah salah satu contoh produk yang ditawarkan dengan mengemas ferrari sebagai pencitraannya. Melihat cara penggunaan alat ini terbukti bahwa gaya hidup telah berkembang dan bergeser seiring dengan perkembangan teknologi informasi dan komunikasi. Perlengkapan multimedia yang disewakan oleh panitia penyelenggara pada dasarnya sebagai media penghubung untuk melihat wujud asli balapan itu sendiri. Dan kenyataannya pengguna media telah secara virtual menikmati ajang yang bergengsi ini.
Labels:
Bahasa,
Case Study,
Digital Tools,
Life Style,
Technology
Friday, September 26, 2008
WYSIWYG
Bagi mereka yang baru mengenal komputer dan perkomputeran di era masa kini, mungkin terminologi WYSIWYG sangat awam dan belum pernah ditemui. Namun bagi yang pernah mengenyam pengalaman saat pertama kali munculnya Sistem Operasi Apple Macintosh atau Microsoft di era tahun 1995, hal ini bukan merupakan hal yang baru.
WYSIWYG kepanjangan dari What You See is What You Get. Apa yang kita lihat di layar monitor komputer kita adalah sama dengan apa yang akan kita peroleh nanti apabila kita ingin mencetaknya, atau melakukan presentasi di layar yang berbeda. Hal ini lambat laun ditingkatkan dengan keakuratan layout, warna, detil garis, dll. Namun demikian ada beberapa kontradiksi dalam memberikan pemaknaan dari WYSIWYG itu sendiri dengan menambahkan kata "NOT" diantara I (is) dan W (what). Sehingga dimaknai dengan kepanjangan What You See Is NOT What You Get. Hal ini muncul di beberapa kalangan karena kekecewaan mereka atas teknologi yang diperoleh tidak sesuai dengan harapannya.
Mirip dengan pemahaman awalnya, pada tingkatan komunikasi ataupun pada jenis komunikasi tertentu, WYSIWYG perlu juga kiranya dipakai sebagai pengetahuan bahwa ada perbedaan hasil antara tingkatan komunikasi inter personal dengan antar personal. Manakala terdapat dua orang sedang terlibat komunikasi non-verbal, maka masing-masing personal menggunakan pengalaman dan pengetahuan masing-masing dalam memberikan umpan baliknya. Kita pahami suatu contoh komunikasi dibawah ini.
Guru Ani sedang mengajar di dalam kelas di depan beberapa muridnya. Salah satu muridnya yang bernama Budi mulutnya sudah tiga kali terbuka setiap satu menit. Guru Ani menanyakan kepada Budi "Budi, apakah kamu kurang tidur?" Budi menjawab pertanyaan guru Ani "Tidak Bu, saya tidur lelap semalam selama delapan jam". Tentunya jawaban Budi akan mengherankan bagi guru Ani. Mengapa Budi yang terlihat mengantuk namun berbeda dengan pengakuannya yang bukan merupakan alasan atas tindak tanduknya di dalam kelas pada saat guru Ani mengajar.
Disini terdapat perbedaan pemahaman dari sebuah lambang-lambang komunikasi. Lambang komunikasi yang ada disini adalah 'mulut yang terbuka lebar-lebar tiga kali setiap satu menit'. Pemahaman guru Ani, bila murid terlihat mulutnya sudah tiga kali terbuka setiap satu menit, berarti dia mengantuk dan kemungkinan besar alasannya adalah kurang tidur di malam hari. Sebaliknya tindakan Budi dengan membuka mulutnya/menguap sebenarnya umpan balik non-verbal bagi guru yang memberikan pelajaran dengan cara yang membosankan. Budi memberikan komunikasi non-verbal kepada gurunya yang ternyata lambang komunikasi tersebut tidak dipahami guru Ani. Guru Ani tidak melihat ada pesan dibalik pesan atas komunikasi non-verbal yang diberikan oleh Budi.
Contoh lainnya adalah berkaitan dengan wacana yang selalu berkembang di kehidupan kita. Beberapa wacana tentang gender, agama, politik, bisnis misalnya. Ada pemahaman umum bahwa warna pink adalah warna untuk anak perempuan sedangkan warna biru adalah warna untuk anak laki-laki. Seorang Mario Teguh dengan cara komunikasi verbal dan non-verbalnya oleh beberapa kalangan yang belum begitu mengenalnya dianggap menganut agama tertentu. Partai politik dengan warna hijau diwacanakan sebagai partai agama tertentu. Pada masa kampanye tiga partai, warna baju yang kita kenakan dapat dianggap mewakili partai politik tertentu. Padahal belum tentu warna yang dimaksud untuk kepentingan partai politik tertentu. Beberapa psikolog tidak menyetujui wacana gender atas warna-warna seperti contoh diatas. Menurut mereka tidak ada salahnya anak perempuan memakai baju warna biru dan anak laki-laki memakai baju warna pink. Bagi mereka hal ini memunculkan sebuah pertanyaan, mengapa warna dijadikan wacana gender?
WYSIWYG dapat dipakai oleh pelaku bisnis yang mencoba mengetahui kemampuan dan tingkat kepercayaan terhadap calon pelanggannya atau sebaliknya. Bagi kaum muda atau insan yang sedang mencoba mengenali karakter atau watak dari calon pasangannya, WYSIWYG dapat dipakai sebagai langkah antisipatif dan alat kewaspadaan dibandingkan langkah kuratif seperti 3G. Untuk itu WYSIWYG perlu diantisipasi dan perlu disikapi dengan cermat dan bijaksana.
Subscribe to:
Posts (Atom)