Showing posts with label Business. Show all posts
Showing posts with label Business. Show all posts

Wednesday, August 4, 2010

Dokumen PDC

Apabila kita menginginkan dokumen dalam format PDF tetap aman, LockLizard Safeguard Viewer dapat kita andalkan. Maklum saja, beberapa piranti lunak lainnya sudah dapat melakukan konversi dari dokumen PDF ke dokumen lain seperti Microsoft Word, Excel ataupun PowerPoint. Nantinya format dokumen ini bukan lagi PDF melainkan PDC.
LockLizard melindungi dokumen PDF dan perlindungan sekaligus keamanan bisnis perusahaan. Dibuat khusus untuk siapapun yang membuat dokumen yang dibagi pakai lalu diterbitkan dalam format PDF. Model dokumen ini dipakai untuk melindungi Anda dari menyalin dokumen PDF yang tidak sah, berbagi, memodifikasi, pencetakan yang berulang. Dengan enkripsi dari Pemerintah Amerika Serikat dan Digital Rights Management dokumen ini dapat meminitor siapa yang melihat dokumen PDF, di mana, dan kapan, dan untuk berapa lama (hari, bulan, tahun atau selamanya) J


Monday, June 30, 2008

Era Baru Bisnis SDM

Dengan kemajuan teknologi informasi dan komunikasi seperti saat ini, akan membuat para investor mulai fokus pada bisnis utamanya. Beberapa perusahaan besar sudah mulai melakukan outsourcing bahkan homesourcing atas beberapa departemen yang sebelumnya menjadi bagian dari manajemen perusahaan.

Departemen kebersihan yang sering disebut sebagai Departemen Cleaning Service sudah tidak lagi dikerjakan secara insourcing, melainkan diarahkan kepada pihak ketiga. Bagi investor, perhitungan gaji dan pemberian kesejahteraan karyawan merupakan beban bagi perusahaan, hal ini khususnya bagi departemen yang dianggap sebagai unit-cost bukan unit-production. sebagai contoh saja, sebuah rumah sakit terkenal dibilangan Jakarta Barat, setelah kepemilikan saham rumah sakit tersebut dijual kepada grup Lippo, maka kebijakan berubah. Manajemen memutuskan untuk membubarkan departemen pelayanan kebersihan. Hal ini juga berarti perusahaan telah merumahkan seratus orang karyawannya, termasuk pimpinan departemen tersebut. Kebijakan perusahaan menganggap bahwa departemen tersebut hanya sebagai pendukung operasional, jadi dianggap bersifat unit-cost, bukan sebagai unit-production.

Thomas L. Friedman dalam bukunya "The World is Flat" telah mengungkapkan hal ini sebagai fenomena yang disebut globalisasi kedua. Outsourcing bagi beberapa kalangan adalah sesuatu yang kadaluarsa. Pada era informasi seperti sekarang ini, aktifitas home-sourcing merupakan gejala baru yang perlu dipertimbangkan. Dalam buku The World is Flat disebutkan tentang penggunaan sebuah teknologi VoIP yang digunakan oleh para ibu rumah tangga di seluruh dunia untuk bekerja dari rumah. Mereka bebas bekerja sambil mengurus anaknya di rumah. Inilah yang disebut Thomas sebagai globalisasi ketiga. Sehingga apabila Anda menggunakan jasa layanan maskapai penerbangan ini lalu memesan tiket melalui layanan call center mereka, jangan berpikir bahwa mereka berada terpusat di dalam sebuah gedung. Melainkan mereka bekerja tersebar di seantero penjuru dunia sambil mengurus anak-anak mereka!

Monday, June 2, 2008

Mengarah Ke Pelayanan

Semua pelaku bisnis rasa-rasanya akan sangat tertinggal apabila mereka hanya menerapkan sistem lama dengan melakukan hard marketing. Kini mereka mulai menyadari bahwa pemakai produk dan jasa ingin mendapatkan sesuatu yang bernilai lebih. Nilai lebih disini mengarah kepada kedekatan individu atau yang sering disebut sebagai customer intimacy. Oleh karena itu pelaku bisnis seperti Cisco System, Datacraft, dan beberapa pelaku bisnis lainnya mengarahkan bisnisnya ke sebuah solusi atas suatu permasalahan pemakai produk dan jasa. Cobalah kunjungi situs Cisco System, mereka membangun citranya dengan menggunakan isitilah "Human Networking", sedangkan Datacraft membawa pesan tentang solusi dan service. Tidak tanggung-tanggung mereka juga membuka semua sumber dayanya ke media publik via situs mereka. Bagi kalangan akademisi seharusnya bersyukur, karena melalui situs mereka, mahasiswa dapat mempelajari apa saja yang telah dicapai perusahaan-perusahaan besar tersebut hingga mendapatkan nama besar seperti sekarang ini.

Thursday, January 17, 2008

Bukan Belanja Iklan, Tapi Maksimalkan PR

PERTENGAHAN tahun 2003 lalu, Philip Kotler pernah melontarkan gagasan kepada para bisnisman, agar mulai memindahkan lebih banyak anggaran iklan untuk mendanai operasional Public Relations (selanjutnya baca: PR).

Menurutnya, belanja iklan di tengah maraknya saluran informasi, televisi, koran, dan radio, sudah tidak lagi efektif sebagaimana lima tahun sebelumnya. Sebab, pemirsa dengan mudahnya memindahkan chanel saat iklan diputar. Lain dari itu, Kotler juga mengatakan, ada sembilan dari sepuluh konsultan PR besar di dunia sekarang ini ternyata dimiliki oleh biro-biro iklan.
Dengan kata lain, gagasan Kotler itu ingin mengatakan bahwa hubungan antara perusahaan dengan pihak luar, - baik menyangkut produk maupun citra perusahaan, sangat ditentukan oleh peranan PR yang dikelola suatu perusahaan dengan peranan PR-nya.

Rasanya, gagasan Kotler tersebut akan terjawab meyakinkan melalui buku ini. Melalui keseriusan riset dan pengalamannya bertahun-tahun sebagai akademisi dan praktisi PR, Kusnadi Suhandang ingin menekankan pentingnya paradigma baru memandang seluk beluk PR mulai dari konsep dasar, visi, dan implementasinya.
Sebagai bagian dari manajemen perusahaan/organisasi, PR berorientasi pada aktivitas yang dilakukan oleh industri, perusahaan, perserikatan, organisasi sosial, atau jawatan pemerintah, untuk menciptakan dan memelihara hubungan yang sehat dan bermanfaat dengan maksud menyesuaikan dirinya pada keadaan sekeliling dan memperkenalkan diri pada masyarakat. (halaman 46).

Minimal ada dua fungsi utama PR yang utama dalam perusahaan. Pertama, PR bertujuan mendapatkan dan menambahkan penilaian serta jasa bagi perusahaan. Kedua, secara defensif berusaha menjadi sarana pembelaan diri terhadap pendapat negatif tatkala menerima penyerangan yang tidak wajar dari pihak luar. (Sementara perusahaan tersebut tidak melakukan kesalahan) .

Pada tataran praksisnya, implementasi PR mengarah pada tiga bidang kerja, yakni marketing, publishing dan dokumentasi. Pada dua bidang marketing dan publishing mungkin memang demikian fungsi PR. Tapi, kenapa dokumentasi dimasukkan sebagai salah satu komponen dari fungsi PR?

Dari sini, Kustadi ingin mempertegas bahwa posisi PR yang notabene adalah penyambung lidah perusahaan tidak hanya bertugas sebagai chanel of information (saluran informasi), melainkan juga merupakan jembatan yang menghubungkan saluran informasi dari publik ke dalam perusahaan.
Adapun kewajiban PR adalah melaksanakan kebijakan manajer perusahaan dalam memperkenalkan produk barunya dan mempengaruhi masyarakat yang akan memakai barang atau jasa (produksi) yang baru tersebut.
Sedangkan terhadap pihak internal perusahaan, PR mempunyai kewajiban memberikan penjelasan tujuan dari setiap kebijakan agar semua pihak merasa terpanggil dan mau menyukseskan program perusahaan sesuai dengan visi manajer (halaman 62).

Dari sini terlihat, PR mempunyai dua arah komunikasi. Dari dua arah ini, tugas terberat PR adalah keberhasilannya mewujudkan hubungan yang harmonis antara perusahaan dengan publik melalui sarana yang positif berupa, public understanding (pengertian publik), publik confidence (kepercayaan publik), public support (dukungan publik) dan public cooperation (kerja sama publik) (halaman 180)
Lekatnya bidang PR dengan dunia komunikasi, secara otomatis mengarahkan proses komunikasi PR berhadapan dengan dua bentuk hubungan yang berbeda strateginya, yakni hubungan secara psikologis dan hubungan sosiologis dengan publik. Yang pertama, kegiatan PR dihadapkan pada masalah-masalah yang berhubungan dengan opini publik dan proses persuasi. Sementara yang kedua dihadapkan pada masalah-masalah yang berkaitan dengan komunikasi massa, human relations dan group relation.
Kompetisi dalam pasar bebas sekarang sangat erat kaitannya dengan maraknya media massa, koran, radio, televisi dan internet. Media massa bagi PR bukanlah sekadar mitra kerja yang sifatnya sementara, melainkan bersifat permanen.

Saking pentingnya media massa, penggelola PR dituntut untuk mengenal dunia pers sebagaimana para wartawan bekerja. Mulai dari soal penyampaian materi konferensi pers, editor bahasa teks realese, materi hingga style siaran radio/televisi, semuanya menjadi bagian keseharian dalam dunia PR.
Kustadi memberikan paparan mengenai fungsi media massa sebagai medium penghubung antara perusahaan dan pihak luar dengan mengedepankan asas profesionalitas dan etika media massa.
Maka, jelaslah siapa pun orangnya yang bekerja dalam PR bukan hanya berfungsi menjalankan tugasnya sebagai bawahan direktur atau manager, melainkan juga harus bisa menjalankan pekerjaan sebagai jurnalis bahkan biro iklan yang handal. Uraian mengenai seluk beluk media massa serta cara kerjanya, secara panjang lebar akan kita dapatkan dalam buku ini.

Wacana PR dalam dunia bisnis sekarang ini tampaknya harus terus dikembangkan secara dinamis baik dalam tataran akademis maupun praksis di perusahaan dan organisasi manapun. Fungsi PR sekarang ini bukanlah sekadar formalitas untuk menampung pengangguran di sebuah perusahaan.
Sebab, berhasil atau tidaknya suatu perusahaan terutama dalam berkomunikasi dengan berbagai pihak sangat bergantung dari misi PR yang dijadikan aparatnya.

Maraknya media massa sebagai medium penghubung menuntut berbagai perusahaan-perusahaan skala menengah dan skala atas di Hong Kong, Jepang, Amerika Serikat, dan beberapa negara di Eropa saat ini melakukan langkah-langkah strategis untuk meningkatkan produktivitasnya dengan memaksimalkan PR, ketimbang sekadar memanfaatkan iklan di berbagai media massa.

Di Indonesia, wacana PR mungkin masih kurang semarak ketimbang negara-negara di atas. Salah satu sebabnya karena PR (sebagai ilmu pengetahuan; sistematis/ilmiah) masih sangat muda usianya. Sebelumnya istilah PR masih terbatas dalam diskursus terbatas dan tidak tersistematisasi.
Bisa dimaklumi jika kemudian banyak orang kita masih menganggap PR tidak terlalu penting dibicarakan secara komprehensif dan mendetail. Wajar pula PR selama ini wacana PR ditempatkan pada posisi yang tidak semestinya, sehingga sering kita dengar banyak para pengusaha di Indonesia pun masih banyak mementingkan sarjana lain ketimbang sarjana PR untuk mengisi lowongan Kepala Humas atau PRO (Public Relations Officer) di perusahaanya.

Akhirnya, tidak sia-sia usaha Kustadi menulis panjang lebar wacana, visi dan arahan praktis bidang Public Relations ini. Sekalipun penulisan Kustadi mengambil gaya penulisan era 80-an yang kurang efektif karena di sana-sini banyak pengulangan pokok bahasan, namun buku ini tetap enak dibaca sebagai konsumsi pengetahuan.
Bukan sekadar pengetahuan normatif yang abstrak, tapi di dalamnya memuat inspirasi-inspirasi yang menyegarkan. Bagi pengelola perusahaan atau organisasi sosial tentu amat penting dijadikan salah satu bacaan.

Sumber : Buku Public Relations: Kajian, Program dan Implementasi

Tuesday, December 4, 2007

Hingga Saat Ini SMS Masih Populer

SMS atau Short Messages Services masih dipakai sebagai aplikasi komunikasi terpopuler di masyarakat. Maraknya pemakaian SMS dengan meningkatnya ragam telepon genggam membuat komunikasi terbaru ini dipakai oleh semua lapisan masyarakat. Pada akhirnya kalangan bisnis memanfaatkan kesempatan ini untuk melakukan komunikasi atas produk dan jasa melalui medium SMS ini.

Perusahaan yang paling sering menggunakan medium ini adalah penyedia jasa layanan seluler itu sendiri, seperti XL, Indosat, Telkomsel, Esia, Telkom, Fren, Three, dan lain-lain. Malahan cara-cara sindikasi dipakai oleh perusahaan lain untuk memasarkan produk dan jasanya. Sebutkan saja AFI di Indosiar yang pernah populer dengan "kirimkan SMS dengan menuliskan nama penyanyi spasi nomor pilihannya, lalu dikirimkan ke nomor ..."

Begitu juga Berbagai stasiun televisi swasta seperti ANTV, TransTV, SCTV, RCTI memiliki berbagai kuis yang menginginkan feedback pemirsanya melalui SMS. Contoh lain adalah AA Gym yang pernah menggunakan medium tersebut untuk dakwah-nya, Twenty One Cineplex juga ikut memanfaatkan layanan pesan tiket nonton film di bioskop dengan menggunakan medium ini, Taxi Blue Bird juga ikut memanfaatkan SMS sebagai alternatif layanan kepada pelanggan untuk pemesanan taxi. Malahan mentalis terkemuka di Indonesia, Deddy Corbuzier juga memanfaatkan SMS ini untuk meramal pribadi seseorang.

Melalui perangkat telepon genggam yang dimiliki sebagian besar masyarakat perkotaan, kalangan bisnis akhirnya tinggal memilih pangsa pasar yang dikonsentrasikan dan memutuskan untuk melakukan komunikasi bisnisnya.



Chit Chat