Showing posts with label communications. Show all posts
Showing posts with label communications. Show all posts

Monday, April 19, 2010

iPad, Teknologi Baru dan Budaya

Pernah mendengar atau membaca informasi tentang iPad? Untuk lebih jelasnya silahkan klik kata iPad sebelumnya. Saya tidak panjang lebar membahas tentang iPad disini. Artikel ini sekedar memberikan umpan balik atas maraknya teknologi komunikasi melalui gadget dan peralatan komputer yang semakin kecil dan sederhana.

Sebagian pihak mengatakan bahwa masyarakat akan serta merta mengadopsi teknologi semacam iPad ini dengan alasan lebih tinggi tingkat mobilitas-nya dan efisien dalam hal penyimpanan. Hal tersebut memang tidak dapat diragukan lagi, namun ada beberapa faktor yang membuat masyarakat juga tidak serta merta mengadopsi teknologi ini. Banyak faktor yang membuat masyarakat tidak langsung mengadopsi teknologi baru, selain masalah biaya, juga masalah budaya.

Di satu media cetak besar nasional yang membahas tentang iPad ini mengatakan bahwa era pengetikan menggunakan keyboard atau papan ketik akan ditinggalkan. Apakah akan seperti itu adanya? Saya sangat meragukannya!
Sejak kemunculan koran online, kenyataannya toko buku masih banyak dikunjungi masyarakat, penulis, penerbit dan percetakan masih melakukan aktifitas dan memperoleh keuntungan dari budaya membaca masyarakatnya. Masyarakat masih berlangganan koran setiap hari, ada kemunculan majalah baru dari berbagai komunitas dan kebutuhan dan anak-anak sekolah serta mahasiswa masih menggunakan buku sebagai pembelajaran utamanya. Jadi, bisa dikatakan bahwa teknologi baru dengan media baru semacam Internet saat ini sekedar pilihan kedua dibandingkan media konvensional.

Kenyataannya memang teknologi diadopsi sebagian masyarakat dengan keterbatasan pengetahuannya. Namun budaya menentukan sikap, perilaku dan cara menggunakannya. Kita ada di masa transisi dimana sebagian kecil masyarakat mengadopsi teknologi namun sebaliknya sebagian besar masyarakat belum mengadopsinya. Belum lagi tanpa menghilangkan rasa optimis kita terhadap energi bumi, sudah selayaknya kita menjadi arif dan bijaksana dalam menggunakan energi tersebut, sebagai contoh ada aktifitas yang mencoba menghindari ketergantungan kita terhadap energi listrik.

Terkadang surat dengan tulisan tangan akan lebih pribadi dibandingkan surat elektronik yang dapat dikirimkan dalam beberapa detik saja. Terkadang lukisan di galeri-galeri seni akan lebih romantis dibandingkan foto-foto yang disebarkan lewat Internet. Seringkali akan lebih nyaman membaca buku bersama pasangan dibandingkan sibuk dengan gadget-nya masing-masing. Bukankah terkadang teknologi membuat kita mendekatkan yang jauh dan menjauhkan yang dekat?

image: courtesy of techno-mobile.net

Friday, September 26, 2008

WYSIWYG

Bagi mereka yang baru mengenal komputer dan perkomputeran di era masa kini, mungkin terminologi WYSIWYG sangat awam dan belum pernah ditemui. Namun bagi yang pernah mengenyam pengalaman saat pertama kali munculnya Sistem Operasi Apple Macintosh atau Microsoft di era tahun 1995, hal ini bukan merupakan hal yang baru.

WYSIWYG kepanjangan dari What You See is What You Get. Apa yang kita lihat di layar monitor komputer kita adalah sama dengan apa yang akan kita peroleh nanti apabila kita ingin mencetaknya, atau melakukan presentasi di layar yang berbeda. Hal ini lambat laun ditingkatkan dengan keakuratan layout, warna, detil garis, dll. Namun demikian ada beberapa kontradiksi dalam memberikan pemaknaan dari WYSIWYG itu sendiri dengan menambahkan kata "NOT" diantara I (is) dan W (what). Sehingga dimaknai dengan kepanjangan What You See Is NOT What You Get. Hal ini muncul di beberapa kalangan karena kekecewaan mereka atas teknologi yang diperoleh tidak sesuai dengan harapannya.

Mirip dengan pemahaman awalnya, pada tingkatan komunikasi ataupun pada jenis komunikasi tertentu, WYSIWYG perlu juga kiranya dipakai sebagai pengetahuan bahwa ada perbedaan hasil antara tingkatan komunikasi inter personal dengan antar personal. Manakala terdapat dua orang sedang terlibat komunikasi non-verbal, maka masing-masing personal menggunakan pengalaman dan pengetahuan masing-masing dalam memberikan umpan baliknya. Kita pahami suatu contoh komunikasi dibawah ini.

Guru Ani sedang mengajar di dalam kelas di depan beberapa muridnya. Salah satu muridnya yang bernama Budi mulutnya sudah tiga kali terbuka setiap satu menit. Guru Ani menanyakan kepada Budi "Budi, apakah kamu kurang tidur?" Budi menjawab pertanyaan guru Ani "Tidak Bu, saya tidur lelap semalam selama delapan jam". Tentunya jawaban Budi akan mengherankan bagi guru Ani. Mengapa Budi yang terlihat mengantuk namun berbeda dengan pengakuannya yang bukan merupakan alasan atas tindak tanduknya di dalam kelas pada saat guru Ani mengajar.

Disini terdapat perbedaan pemahaman dari sebuah lambang-lambang komunikasi. Lambang komunikasi yang ada disini adalah 'mulut yang terbuka lebar-lebar tiga kali setiap satu menit'. Pemahaman guru Ani, bila murid terlihat mulutnya sudah tiga kali terbuka setiap satu menit, berarti dia mengantuk dan kemungkinan besar alasannya adalah kurang tidur di malam hari. Sebaliknya tindakan Budi dengan membuka mulutnya/menguap sebenarnya umpan balik non-verbal bagi guru yang memberikan pelajaran dengan cara yang membosankan. Budi memberikan komunikasi non-verbal kepada gurunya yang ternyata lambang komunikasi tersebut tidak dipahami guru Ani. Guru Ani tidak melihat ada pesan dibalik pesan atas komunikasi non-verbal yang diberikan oleh Budi. 

Contoh lainnya adalah berkaitan dengan wacana yang selalu berkembang di kehidupan kita. Beberapa wacana tentang gender, agama, politik, bisnis misalnya. Ada pemahaman umum bahwa warna pink adalah warna untuk anak perempuan sedangkan warna biru adalah warna untuk anak laki-laki. Seorang Mario Teguh dengan cara komunikasi verbal dan non-verbalnya oleh beberapa kalangan yang belum begitu mengenalnya dianggap menganut agama tertentu. Partai politik dengan warna hijau diwacanakan sebagai partai agama tertentu. Pada masa kampanye tiga partai, warna baju yang kita kenakan dapat dianggap mewakili partai politik tertentu. Padahal belum tentu warna yang dimaksud untuk kepentingan partai politik tertentu. Beberapa psikolog tidak menyetujui wacana gender atas warna-warna seperti contoh diatas. Menurut mereka tidak ada salahnya anak perempuan memakai baju warna biru dan anak laki-laki memakai baju warna pink. Bagi mereka hal ini memunculkan sebuah pertanyaan, mengapa warna dijadikan wacana gender?

WYSIWYG dapat dipakai oleh pelaku bisnis yang mencoba mengetahui kemampuan dan tingkat kepercayaan terhadap calon pelanggannya atau sebaliknya. Bagi kaum muda atau insan yang sedang mencoba mengenali karakter atau watak dari calon pasangannya, WYSIWYG dapat dipakai sebagai langkah antisipatif dan alat kewaspadaan dibandingkan langkah kuratif seperti 3G. Untuk itu WYSIWYG perlu diantisipasi dan perlu disikapi dengan cermat dan bijaksana.

Thursday, September 25, 2008

Komunikasi Kepada Publik Eksternal

Hubungan dengan publik diluar perusahaan merupakan keharusan yang mutlak. Karena perusahaan tidak mungkin berdiri sendiri tanpa bekerja sama dengan perusahaan yang lain. Karena itu perusahaan harus menciptakan hubungan yang harmonis dengan publik-publik khususnya dan masyarakat umumnya.
Salah satunya dengan melakukan komunikasi dengan publik eksternal secara informatif dan persuasif. Informasi yang disampaikan hendaknya jujur, teliti dan sempurna berdasarkan fakta yang sebenarnya. Secara persuasif, komunikasi dapat dilakukan atas dasar membangkitkan perhatian komunikan (publik) sehingga timbul rasa tertarik.
Masalah yang perlu dipecahkan dalam kegiatan public relations eksternal meliputi bagaimana memperluas pasar bagi produksinya, memperkenalkan produksinya kepada masyarakat, mendapatkan penghargaan dan penerimaan dari publik maupun masyarakat, memelihara hubungan baik dengan pemerintah, mengetahui sikap dan pendapat publik terhadap perusahaan, memelihara hubungan baik dengan pers dan para opinion leader, memelihara hubungan baik dengan publik dan para pemasok yang berhubungan dengan operasional perusahaan dan mencapai rasa simpatik dan kepercayaan dari publik dalam masyarakat.
Tindakan-tindakan yang harus dilakukan external public relations seperti :
Menganalisa dan menilai sikap dan opini publik yang menanggapi kebijaksanaan pimpinan perusahaan dalam menggerakkan pegawainya dan menerapkan metodenya
Mengadakan koreksi dan saran kepada pimpinan perusahaan, terutama kegiatan yang mendapat sorotan atau kritikan publik
Mempersiapkan bahan-bahan penerangan dan penjelasan yang jujur dan objektif agar publik tetap memperoleh kejelasan tentang segala aktivitas dan perkembangan perusahaan
Ikut membantu pimpinan dalam hal menyusun atau memperbaiki formasi staf ke arah yang efektif
Mengadakan penyelidikan atau penelitian tentang kebutuhan, kepentingan dan selera publik akan barang-barang yang dihasilkan perusahaan.

Monday, July 7, 2008

Komunikasi Mempertahankan Reputasi

Inti dari sebuah aktifitas PR adalah "berkomunikasi". Hal ini berarti bahwa apapun yang dipikirkan dan apapun yang dilakukan oleh PR selalu mengarah pada kegiatan berkomunikasi untuk mempertahankan reputasi organisasi. Dikatakan sebuah aktifitas inti dikarenakan dalam membangun hubungan (relations), satu-satunya aktifitas dasar yang harus dilakukan adalah melakukan komunikasi kepada khalayaknya. Sehingga seorang praktisi PR sudah sewajarnya akan mendapatkan tantangan akan usaha-usaha melakukan komunikasi yang positif, bukan sebaliknya. Oleh karena itu organisasi yang merekrut seorang PR profesional tentunya akan membuat sebuah kontrak kerja baku yang mengatakan bahwa apabila seorang praktisi PR melakukan kegagalan dalam berkomunikasi, hal ini akan berakibat dihentikan dari jabatannya / pekerjaannya. 

Warren Buffet mengatakan bahwa reputasi mungkin saja dibangun dan dipertahankan selama kurun waktu 20 tahun namun reputasi dapat hancur hanya dalam waktu lima menit saja.
Itulah mengapa komunikasi untuk mempertahankan reputasi sangatlah penting.

Friday, June 6, 2008

Jangan Sekadar Nge-Blog

Ada beberapa kalangan yang sedang hot-hotnya menulis di media online, contohnya menulis pada blog. Hal ini patut diambil sisi positifnya. Yaitu melatih dan memotivasi seseorang untuk berani mengungkapkan sebuah ide, gagasan, ataupun sekedar curhat. Hal yang tidak terasa terjadi adalah kemampuan menulis yang semakin lama semakin baik. Hal ini juga dirasakan oleh blogger-blogger baru. Cobalah simak penuturan Iyo di blog perspektif.net.
Bagi praktisi Public Relations (PR), blog harus memiliki nilai lebih. Tidak sekadar ajang rumpi dan curhat apalagi narsistis, selain bertujuan membangun komunitas, pesan yang disampaikan mengarah kepada strategi PR itu sendiri. Pesan persuasif yang disampaikan harus bersandar pada etika PR secara umum.

Bagi mahasiswa yang mempelajari Online PR, kiat-kiat serta usaha menggunakan Search Engine, membuat blog atau menggunakan aplikasi seperti Google Docs adalah sarana gratis yang dapat dimanfaatkan secara cuma-cuma. Di kemudian hari, apabila sebuah citra organisasi dan citra praktisi PR di dunia maya dianggap penting, maka seyogyanya memiliki alamat domain yang representatif. Organisasi yang belum menganggap pentingnya media online, dapat dibantu dengan pembuatan website secara cuma-cuma. Hal ini juga diharapkan dapat meningkatkan kepedulian organisasi terhadap reputasi manajemen di dunia maya.

Jangan sekadar nge-Blog. mulai saat ini upayakan membuat tulisan pada media online sesuai kriteria yang diinginkan namun bermanfaat bagi khalayak yang telah kita segmentasikan sebelumnya. Sebagai gambaran umum silahkan mengunjungi dan menyimak para pemenang blogger 2007 pada side bar blog ini. Apabila masih belum memuaskan silahkan googling khusus pencarian blog, lalu masukkan kata kunci yang mengarah kepada kriteria yang diinginkan.

Selamat nge-Blog!

Tuesday, June 3, 2008

Ambil Kesempatan Menggunakan Media Online

Apakah Anda pernah berpartisipasi dalam sebuah media online? Sebut saja detik.com, atau kompas.com yang baru saja diluncurkan menggunakan public figure seperti Sandra Dewi yang memiliki blog pribadi untuk fansnya.
Apabila ingin mencoba berpartisipasi, silahkan mencoba mengunjungi berbagai media online tersebut. Apabila ingin mendapatkan berbagai bentuk blog di dunia maya, silahkan googling dan temukan berbagai blog di dunia maya.

Pada tanggal 28 Oktober 2007 lalu, Menkominfo Moh. Nuh telah meresmikan bahwa setiap tanggal 28 Oktober dinyatakan sebagai hari blogger nasional. Hal ini berarti pemerintah RI telah mendukung upaya-upaya penyampaian informasi melalui blog. Khusus mahasiswa Online Public Relations dipersilahkan mencoba menggunakan blog ini sebagai ajang partisipasi dalam perkuliahan Online PR.

Wednesday, January 23, 2008

Simplify Your Words

Oleh : Ponijan Liaw - National Bestselling Author of Communication & Zen Series

It's important to talk to people in their own language. If you do it well, they'll say, "God, he said exactly what I was thinking." And when they begin to respect you, they'll follow you to the death.
Lee Iacocca

Banyak orang yang lupa (atau pura-pura lupa) menyederhanakan kosa kata yang digunakan ketika berkomunikasi dengan orang lain. Tidak menyadari latar belakang gaya bahasa, istilah dan kebiasaan berbahasa orang yang diajak berkomunikasi. Bahasa kantor yang sangat teknis dan njlimet menghiasi percakapan mereka. Sekali pun orang yang diajak bicara telah mengernyitkan dahi ketika mendengarkan mereka, malah ada yang merasa bangga bahwa mereka telah menggunakan bahasa formal nan tinggi sehingga orang-orang mungkin saja menganggap mereka sebagai kaum intelektual.

Dalam kaitan ini, dulu pernah ada sebuah karikatur yang menyindir rencana penyediaan tenaga pendidik bergelar Doktor (S-3) untuk mengajar di Sekolah Dasar (SD). Karikatur itu jika dinarasikan kira-kira seperti ini:

Doktor : Selamat Pagi Anak-anak.
Murid SD : Selamat Pagi Pak Guru (dengan nada khas anak-anak)
Doktor: Anak-anak, pagi ini Bapak akan mengajar tentang Konflik Sosial. Seperti kita ketahui bahwa konflik sosial, baik yang horizontal mau pun vertikal akhir-akhir ini menunjukkan eskalasi pertumbuhan yang semakin mengkhawatirkan. (murid-murid mulai pusing dengan istilah-istilah sang doktor).
Sekarang, agar konflik sosial tersebut tidak mengkristal menjadi permanen sehingga sulit diatasi, harus ada solusi integratif dan komprehensif untuk mengatasinya. Sedapat mungkin menggunakan pendekatan win-win solution.

Tentu dapat dibayangkan bagaimana kondisi struktur kognitif anak-anak SD saat menerima ‘kuliah' sang Doktor. Bingung !

TIPS

Supaya komunikasi kita lancar, bahasa dan segala istilah teknis harus dapat disederhanakan sedemikian rupa agar pendengar atau siapa saja yang sedang melakukan konversasi dengan kita dapat menangkap esensi kalimat kita. So, tidak perlu show off melalui penggunaan kata-kata keren namun membingungkan.



---------------------------------------

Untuk referensi lebih lanjut, silahkan baca 2 buku penulis lainnya tentang komunikasi:

1. The Art of Communication that Works - Komunikasi yang Berhasil

2. Understanding Your Communication Styles - Memahami Gaya Komunikasi Anda


Sunday, January 6, 2008

Bagaimana Membangun Komunikasi Dua Arah

Lalu lintas dua arah seringkali menimbulkan kemacetan, terutama di daerah yang padat kendaraan. Tetapi, tidak demikian dengan komunikasi. Komunikasi dua arah justru memperlancar hubungan di berbagai bidang, baik di tempat kerja maupun di rumah. Membangun komunikasi dua arah memang tidak mudah, tetapi siapa tahu dengan menyimak yang berikut, Anda pun bisa melakukannya.

APAKAH PERLU KOMUNIKASI DUA ARAH?

Untuk mengetahui apakah Anda memang perlu membangun komunikasi dua arah, coba jawab beberapa pertanyaan berikut.
• Apakah anak buah atau bawahan Anda sering datang kepada Anda dan secara nyaman menyampaikan ”unek-unek” mereka?
• Apakah Anda dan tim Anda bisa saling menerima kritik tanpa mengambil sikap defensif?
• Apakah Anda tahu rasa frustrasi, masalah, keinginan, minat anggota tim Anda?
• Apakah Anda sering menanyakan pendapat atau masukan dari anggota tim tentang suatu keputusan yang akan Anda ambil?
• Apakah dalam rapat dengan tim, ada kebebasan menyatakan pendapat, memberi usulan dan saran?
Jika sebagian besar jawaban Anda adalah ”tidak”, maka kemungkinan besar Anda perlu membangun komunikasi dua arah. Namun, jika sebaliknya, jawaban Anda kebanyakan adalah ”Ya”, Anda telah memupuk terjadinya komunikasi dua arah, namun tidak ada salahnya untuk menyimak beberapa kendala komunikasi dan usulah strategi komunikasi berikut.

KENDALA KOMUNIKASI
Roger Neugebauer dalam artikelnya ”Communication: A two-way Street” mengungkapkan beberapa kendala yang sering dialami oleh sebuah organisasi dalam berkomunikasi dua arah.
Protectiveness (Perlindungan). Pimpinan seringkali tidak memberitahukan informasi tertentu pada karyawannya atau timnya karena takut akan menyakiti hati karyawan. Alasan lain adalah bahwa pimpinan menganggap bahwa informasi tersebut harus dilindungi, dan bukan untuk konsumsi karyawan karena karyawan tidak akan mungkin mengerti apa yang akan disampaikan. Demikian pula dengan karyawan, mereka sering tidak menyampaikan informasi tertentu kepada pimpinan untuk melindungi dirinya dari tindakan pemecatan atau peringatan. Mereka takut jika informasi disampaikan maka pimpinan akan marah, lalu mendiskreditkan mereka, memberikan penilaian yang negatif terhadap mereka (sehingga berdampak pada kenaikan gaji yang kecil), atau bahkan yang paling ekstrem adalah memecat mereka.
Defensiveness (Pertahanan). Selain menahan informasi, seseorang juga bisa saja tidak mau menerima informasi (menolak untuk mendengar informasi yang disampaikan). Hal ini terjadi jika mereka sudah membentuk emosi negatif terhadap orang yang memberi informasi, mungkin karena orang tersebut telah merendahkan dengan kata-kata yang menyakitkan. Hal ini membuat ia merasa ”diserang”, sehingga secara alami, orang yang merasa diserang tersebut membangun benteng pertahanan dengan menahan informasi yang masuk. Ia menganggap informasi tersebut juga akan membuatnya sakit hati. Misalnya saja ada Pak Arief yang memberi komentar kurang baik tentang prestasi seorang anak buahnya. Anak buah Pak Arief cenderung merasa bahwa masukan tersebut ”menyerang” harga dirinya, egonya, dan kualitas kerjanya. Padahal sebenarnya Pak Arief hanya ingin memberikan masukan untuk perbaikan, tetapi masukan ini disampaikan dengan kata-kata yang tidak dipikirkan dulu penyampaiannya. Ketika merasa diserang maka anak buah Pak Arief cenderung akan marah, dan menutup ”telinga” terhadap informasi lainnya yang mungkin saja berguna untuknya (misalnya: informasi mengenai strategi memperbaiki kinerjanya).
Tendency to evaluate (Kecenderungan untuk menghakimi). Jika mendapat informasi dari seseorang mengenai keburukan orang lain, pimpinan cenderung mengambil sikap yang mengevaluasi tanpa mengumpulkan data yang lengkap sebelum berkomunikasi dengan orang yang dibicarakan tersebut. Karena terpengaruh oleh pandangan satu orang, pimpinan langsung membentuk opini tertentu dan mengambil keputusan sepihak tanpa melibatkan orang-orang yang terkait, dan tanpa mengumpulkan fakta lapangan yang cukup. Ini bukanlah merupakan komunikasi dua arah, tetapi komunikasi satu arah, atau bahkan bisa dikatakan bahwa tidak terjadi komunikasi sama sekali.
Narrow perspectives (Perspektif yang sempit). Karena jarang meninjau pekerjaan orang lain, atau keluar dari lingkungan pekerjaan sendiri, seseroang seringkali dibatasi pada cara pandangnya sendiri. Ia tidak mencoba melihat dari sudut pandang orang lain. Pimpinan yang sering mengambil keputusan besar yang menyangkut keputusan keuangan dan strategi operasional secara umum, seringkali tidak mempertimbangkan detail pelaksanaan pekerjaan dan sudut pandang para pekerjaan. Sebaliknya, para karyawan, seringkali hanya melihat suatu masalah dari sudut pandangnya sendiri (kepentingan individunya semata, tanpa mencoba memahami sebuah situasi dari sudut pandang yang berbeda). Sempitnya perspektif inilah yang sering menyebabkan konflik (tiap orang hanya melihat dari sudut pandang sendiri, dan tidak mencoba memahami orang lain). Sebagai contoh, keputusan seorang pemimpin untuk membatasi percakapan telepon selama tiga menit saja, dianggap sebagai keputusan yang tidak populer, apalagi untuk bagian marketing yang sering kali menggunakan telepon untuk berhubungan dengan calon pelanggan atau pelanggan yang ada.
Mismatched expectations. Peter Drucker mengatakan bahwa pikiran manusia seringkali hanya membatasi informasi yang cocok dengan ekspektasinya Jika, ternyata informasi yang disampaikan tidak sesuai dengan apa yang diharapkan, maka orang tersebut cenderung tidak termotivasi untuk mendengarkan informasi yang disampaikan. Misalnya: jika dalam rapat-rapat ternyata seringkali tanggapannya tidak diperhatikan, maka karyawan cenderung enggan menyatakan pendapat, karena ia beranggapan percuma saja menyampaikan pendapat, karena biasanya juga tidak ada follow-up-nya. Demikian pula dengan pimpinan, yang sering mendengarkan pendapat karyawan yang dianggapnya tidak relevan dengan keputusan yang akan diambil. Pimpinan tersebut cenderung tidak mendengarkan pendapat dari orang tersebut di waktu-waktu yang berikutnya.
Insufficient time. Alasan lain adalah keterbatasan waktu untuk menyampaikan informasi secara menyeluruh. Karena kegiatan rutin yang harus diselesaikan dengan segera, seringkali waktu berkomunikasi dilupakan, atau komunikasi dilakukan dengan tergesa. Akibatnya, informasi yang disampaikan kepada orang lain pun tidak lengkap. Dampaknya adalah orang lain hanya menerima sebagian informasi (tidak utuh), sehingga ada kemungkinan informasi tersebut salah dipahami.

MEMBANGUN KOMUNIKASI DUA ARAH
Setelah memahami berbagai kendala yang menghambat terjadinya komunikasi dua arah, kita akan lebih mudah untuk menyusun strategi guna membangun komunikasi dua arah tersebut. Berikut adalah beberapa strategi yang bisa dicoba.
Mendengar. Dalam komunikasi dua arah, ada yang berbicara, dan ada yang mendengar. Yang sering terjadi adalah tiap pihak saling menunggu kesempatan untuk berbicara tanpa meluangkan waktu untuk mendengar apa yang disampaikan pihak lain (karena ia sibuk menyiapkan apa yang akan disampaikan). Seringkali, banyak permasalahan dapat terselesaikan justru bukan karena seseorang menjadi pembicara yang handal, melainkan karena ia bersedia memahami orang lain dengan cara mendengarkan dengan saksama apa yang disampaikan (keluhan, masalah, keinginan, harapan). Informasi yang didengar inilah yang bisa dijadikan dasar untuk menentukan langkah selanjutnya untuk menyelesaikan masalah.
Terbuka. Untuk mendorong tiap pihak untuk saling terbuka, seorang pimpinan hendaknya tidak menghukum orang yang menyampaikan pendapat, masalah, atau perasaannya. Keterbukaan bisa juga dibuatkan wadahnya, yaitu melalui bulletin board, kotak saran, atau media antarkaryawan. Karyawan yang menyampaikan pendapat atau ide yang bisa dimanfaatkan perusahaan, bisa diberikan hadiah, atau penghargaan. Demikian juga dengan karyawan yang bisa mengidentifikasi atau mengantisipasi masalah serta mengusulkan alternatif pemecahannya.
Menyamakan persepsi. Komunikasi dua arah sering terhambat karena adanya perbedaan persepsi terhadap suatu masalah. Dengan demikian, dalam berkomunikasi, ada baiknya disampaikan juga latar belakang pemikiran dari ide yang disampaikan, sehingga orang lain juga bisa memiliki persepsi yang sama, berangkat dari persepsi yang sama, atau paling tidak memahami persepsi orang yang menyampaikan informasi tersebut. Jika pemahaman sudah tergalang, maka komunikasi dua arah akan lebih mudah mengalir.
Komunikasi empat mata. Banyak juga karyawan yang enggan menyampaikan pendapat karena sungkan berbicara di hadapan banyak orang, padahal mungkin saja karyawan tersebut memiliki ide yang brilian. Seorang pimpinan bisa mencoba melakukan komunikasi dua arah terhadap anak buahnya secara regular untuk memahami kebutuhan, ekspektasi, masalah mereka. Dengan komunikasi empat mata, bawahan mungkin saja lebih nyaman menyatakan pendapat atau menyampaikan permasalahan yang ditemuinya di lapangan. Jadi, komunikasi empat mata penting untuk dilakukan dengan lebih sering, tidak hanya ketika melakukan evaluasi kerja tahunan.
Ada banyak cara untuk membangun komunikasi dua arah, beberapa di antaranya baru saja kita bahas bersama. Mungkin Anda bisa memilih mana yang paling cocok untuk Anda, atau mengkombinasi beberapa strategi untuk mencapai komunikasi dua arah dengan lebih mudah, dengan hasil yang lebih baik. Selamat berkomunikasi!
http://www.sinarharapan.co.id/ekonomi/mandiri/2005/0222/man01.htm

Membangun Komunikasi Efektif

Sebagai makluk sosial komunikasi merupakan hal yang paling dekat dengan kita. Apa sih sebenarnya komunikasi itu? Komunikasi dapat kita artikan sebagai berbagi pikiran, informasi dan intelijen. Segala bentuk aktivitas yang dilakukan oleh seseorang dengan tujuan menyampaikan pesannya pada orang lain merupakan tujuan komunikasi. Lalu jika pesan yang kita maksudkan tersebut tidak sesuai dengan penangkapan lawan bicara kita, terjadilah mis-komunikasi, Nah, sebuah komunikasi yang efektif membutuhkan kejernihan pesan, kelengkapan pesan, ekspresi wajah, kontak mata, postur tubuh, dan penampilan fisik secara eksternal.

Di era modern ini mungkin nampak sulit melihat seseorang berusaha menciptakan kesadaran komunikasi. Banyak di antara kita memberi sedikit perhatian pada hal ini tetapi kenyataanya komunikasi ini terus berlangsung, tak peduli siapa anda, jika anda tidak bisa berkomunikasi dengan semestinya maka tak seorangpun akan mendengarkan Anda. Jadi komunikasi merupakan sebuah asset penting sebagai tambahan untuk kepribadian Anda. Bagiamana membangun sebuah komunikasi efektif tersebut, berikut beberapa hal yang sebaiknya jadi pertimbangan untuk dikembangkan:
Kontak Mata

Hal pertama yang dilakukan seorang pembicara yang baik adalah menatap lawan bicara dan mengambil jeda untuk memulai sebuah pembicaraan. Ini merupakan salah satu cara yang membantu untuk menciptakan kesan baik pada lawan bicara. Usahakan mempertahankan kontak mata sepanjang pembicaraan, agar lawan bicara Anda tak merasa diabaikan.
Ekspresi Wajah
Wajah merupakan cermin kepribadian individual. Ekspresi wajah mengungkapkan pikiran yang sedang melintas pada diri seseorang. Sebagi contoh: sebuah senyum mengungkap keramah-tamahan dan kasih-sayang;Mengangkat alis mata menunjukan ekpresi heran; Mengernyitkan dahi menyampaikan ketakutan dan kegelisahan. Semua emosi dan berbagai macam tingkah manusia diekspresikan dalam emosi yang berbeda yang tergambar di wajah. Jadi saat melakukan komunikasi tunjukan ekspresi bahwa Anda tertarik dengan bahan pembicaraan.

Postur Tubuh
Setiap gerak-gerik tubuh saat berbicara mesti dikoordinasikan dengan kekuatan meyakinkan dari Anda. Mereka bisa jadi semacam tambahan untuk cara efektif yang dapat ditangkap secara visual daripada secara verbal. Sebagai contoh: menundukan kepala menunjukkan penyelesaian pernyataan; mengangkat kepala menunjukkan akhir pertanyaan;Terlalu sering menggerakan bagian tubuh mengungkapkan sedang bergegas atau kebingungan. Untuk itu perhatikan gerak-gerik Anda saat melakukan komunikasi dengan lawan bicara.

Selera Berbusana
Busana memiliki tugas penting dalam menimbulkan kesan. Orang yang berbusana sesuai dengan struktur tubuh mereka nampak lebih menarik. Penampilan fisik seseorang dan busana yang dikenakan membuat dampak pasti pada proses komunikasi. Kita semua berbusana dan mungkin banyak diantara kita tak terlalu memperhatikan, namun hal kecil ini memiliki peran untuk sebuah efektif. Jika kita memperhatikan bagaimana cara berbusana, hal itu akan memperbaiki kemampun komunikasi kita.

Sumber : Kapan lagi.com

Chit Chat